Seperti yang telah kita ketahui semua bahwa TKI dan Devisa tidak akan pernah dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, dengan adanya TKI yang kerja diluar negri negara akan mendapatkan pemasukan berupa devisa. Dan TKI akan mendapatkan pemasukan dari bekerja diluar negeri tersebut.
Tetapi meskipun demikian, mereka para pejuang devisa malah tak mendapatkan sesuatu meskipun cuman mendapatkan “dihargai” oleh seseorang, mereka cuman diliat sebelah mata. Seperti suara hati seorang TKI yang merupakan seorang sahabat blogger yang meluangkan waktunya untuk ngeblog tentang bagaimana kehidupan seorang TKI di negara tetangga Malaysia.
Tapi alangkah tidak beruntungnya kami, karena masih ada saja manusia (hina, tidak berperasaan, ngawur) yang menilai profesi kami sebagai profesi rendahan, hina, dan norak. Ehm…betapa malangnya nasib kami.
Saya pernah merasakan sendiri bahwa saya (dan kami) dihina, dilecehkan, dicemooh, dipandang sebelah mata, dan diacuhkan semata-mata karena profesi kami hanya sebagai TKI.
Ya seperti itulah para nasib TKI yang merupakan seorang pejuang Devisa tapi bukan pujian, bukan “dihargai” yang mereka dapatkan tetapi malah hinaan, cacian, makian. Bukan hanya dari masyarakat tetapi juga dari pemerintah yang terkesan berpangku tangan
Saya secara pribadi memohon kepada pemerintah supaya lebih memperhatikan kami. Yang saya perhatikan selama ini pemerintah seolah-olah berpangku tangan. Apa ini?
TKI juga manusia punya hati, punya perasaan yang seharusnya kita tidak boleh merendahkan mereka, mereka PEJUANG, BERJUANG DEMI NEGERI KITA, NEGERI INDONESIA…, bukan perlakuan yang seperti ini yang seharusnya mereka dapatkan.
Bagaimana nasib abang sepupu dan teman saya? Beruntung abang saya bisa lolos dari cengkraman dengan cara mengaku adik kepada seorang anggota TNI yang menjemput adiknya (yang juga TKI). Alhasil abang saya bisa lolos secara oknum tersebut ‘minder’ dengan anggota TNI tersebut. Nah, bagaimana nasib teman saya?
Malang memang, teman saya itu terciduk oknum tersebut dan dikumpulkan di terminal tiga, tempat dimana para TKI yang lain dikumpulkan.
Bukan tinggal diam saja memang abang sepupu saya, secara dia juga mampir di Jakarta dulu di rumang abangnya. Dia juga mencoba untuk mengeluarkan teman saya itu. Dibawalah seorang anggota Polisi untuk membantu mengeluarkan. Hasilnya…nihil. Karena di tempat penampungan tersebut dijaga anggota Polisi juga yang pangkatnya ternyata lebih tinggi daripada anggota Polisi yang dibawa abang sepupu saya.
Sudah diduga sebelumnya akan terjadi seperti ini, saya dan teman saya di sini. Kami selalu berhubungan. Sampai kisah ini berakhir.
Baik memang cara pemerintah menampung TKI terlebih dulu untuk kemudian dipulangkan. Tapi apakah harga antara Jakarta-Pati harus dibayar dengan Rp 1.800.000,-? Saya menulis angka yang benar yang seharusnya hanya dibayar tidak sampai Rp 200.000,- (bis ekskutif).
Bagaimana pendapat kalian…??? Apakah benar perlakuan oknum pemerintah tersebut terhadap para pejuang, pejuang bangsa ini..??? Meskipun pejuangan mereka bukan dengan mengangkat senjata. Adilkah pemerintah… terhadap mereka..?? Coba pikir..!!!
Harusnya kita dan juga pemerintah dapat sedikit belajar dari negara tetangga kita yaitu Malaysia, memang dulu kita pernah sedikit cekcok dengan mereka, tetapi mereka sangat perduli dengan nasib TKI yang bekerja disana karena mereka salah satu orang yang telah berjasa untuk membangun negara mereka.
Kesehatan warga Malaysia adalah ditunjang juga oleh kerja keras departemen tersebut. Berbagai upaya dan inovasi-inovasi dijalankan demi menjaga dan mengawasi kesehatan warga Malaysia. Mulai dari subsidi kesehatan sampai asuransi kesehatan. Meskipun demikian saya dan kami warga asing yang mencurahkan bakti dan tenaga demi kemajuan ekonomi Malaysia, pun tidak luput dari incarannya.
Bukanya kami akan ditangkap dan dipenjarakan kemudian diantar pulang, tetapi malah kebalikanya. Kami tidak luput dari perhatian dan pengorbanan para pengabdinya demi kesehatan kami.Sudah 2 hari ini para pegawai Jabatan Kesihatan Malaysia dengan sukarela mengambil sampel darah kami para pekerja asing, menyemprotkan asap anti nyamuk disetiap sudut rumah kami, membagi-bagikan selimut yang sudah dibubuhi obat nyamuk secara gratis. Benar-benar gratis tanpa memungut sepeser pun dari kami. Luar biasa…
Bukan itu saja, bahkan setelah mereka mengambil sampel darah kami dan memeriksanya di laboratorium, jika diantara kami ada yang terkena penyakit, mereka akan membawa kami berobat sampai sembuh tanpa memungut biaya, bener-bener gratis. Dan menariknya mereka tidak memandang apakah kami memiliki dokumen perjalanan yang resmi ataupun tidak, alias permitan maupun kosong. Benar-benar 4 jempol.
Tetapi “dirumah” mereka sendiri bukan itu yang mereka dapatkan, malah pemerasan yang mereka dapatkan dari oknum pemerintah. Harusnya pemerintah dapat memberikan lebih dari apa yang diberikan negara Malaysia tersebut, karena “rumah” mereka disini…
PS : Terima kasih abang/mas/kang benlahmen yang bersedia artikelnya saya cuplik meski saya belum mendapatkan ijin. Dan maaf kalau artikel ini saya buat untuk sebuah kontes. Sekali lagi terima kasih dan maaf
pertamaxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
artikel terakhir blognya rifa..Menyenangkan VS Menyebalkan
Semoga nanti TKI akan mendapat perlakuan yang lebih baik lagi….
Coba kalo TKI nya juga berpendidikan, mungkin nasib mereka akan lebih baik….
artikel terakhir blognya BlaGabloGer..Tips Mengatasi Patah Hati
Wkwkwk kirain Gie berandai2 jadi TKI
Nasib TKI kita memang sangat memprihatinkan. Mereka kurang mendapat perlindungan dari pemerintah kita sendiri.
artikel terakhir blognya Tongkonan..Jadilah Sahabat Bumi
WEaduh mas ini tuliasan apau cerita tapi nggak papa. Yang penting kalau orang indonesia ka luar negeri semua kan jika di pikir-pikir mengurang peledakan penduduk gituloh.
artikel terakhir blognya 4ditya92..Hari libur berlalu
yah semoga cerita diatas dibaca oleh para pejabat agar mereka juga bisa belajar dari negeri tetangga
artikel terakhir blognya Narmadi..Evaluasi Di Penghujung Tahun 2008
Hmmm…
Mbah Ben kok belum datang???
Lomba apa, Nug?
artikel terakhir blognya sapimoto..Pemenang Latihan SEO Untuk Pemula
@rifa
hu uh pertamax mbak…
@BlaGabloGer
ya sebenernya TKI itu berpendidikan kok mas… ya kan biasanya ada training-training dulu sebelum dilepas jadi TKI, dan kalau gak berpedidikan gak bakalan mbah benlahmen punya blog hayoo…
@Tongkonan
iya mas… harusnya pemerintah bisa memperhatikan para pejuang devisa
@4ditya92
ya terserah penilaiannya
. Tapi kalau yang pinter-pinter yang keluar jadinya negara kita jadi negara sisa-sisa
@Narmadi
ya mungkin yang baca ya pejabat yang banyak waktu luang
@sapimoto
Nggak tau tu… Lomba andai mas… di zalcom
Wah maaf saya datangnya telat. Soalnya dah berhari-hari saya ndak bisa akses ke sini. Ndak pa2 artikel saya dikopas, sah-sah saja asal tidak disalahgunakan untuk kejahatan. Kan malah menguntungkan saya, secara berarti tulisan saya berguna.
ps : @BlaGabloGer
@nuggix
Jangan salah lho ya, tidak semua TKI gaptek atau tidak berpendidikan. TKI seumuran saya kebanyakan lulusan SMA bahkan tidak sedikit yang SARJANA. Jadi tidak ada alasan untuk menganggap kami gaptek. Meskipun rata-rata kami tidak ditraining terlebih dahulu. Terima kasih
@benlahmen
Akhirnya yg ditunggu dateng juga
, oke makasih mbah ben, lo kan aku juga ngomongnya juga gitu ya gak mungkin kalau semuanya gaptek, kalau gaptek gak mungkinkan ada TKI yg punya blog
Hebat dalam mengangkat tema Andai, moga sukses
@rajawali kecil
makasih…
June 15, 2009
UUD !
ujung2 e duit tuu
mungkin aja
[...] Nuggix.com : TKI dan Devisa [...]
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Sorry, the comment form is closed at this time.












15 Comments